Motion design
Tempe Itu Ternyata Hidup
Video lirik kartun bergaya buku cerita tentang seorang anak SD yang bosan di dapur Mbah sampai ia melihat kapang Rhizopus merajut kedelai menjadi tempe: spora terbang dari sporangium di papan kapur, hifa tumbuh di diagram cetak biru, lalu ditutup dengan tempe goreng dan tulisan kapur terima kasih untuk kapangnya.
Prompt
Tolong buatkan video musik pendek berdurasi 20 detik, 1280x720, berupa kartun 2D yang digambar sepenuhnya dengan canvas, tentang tempe dan kapang yang membuatnya. Videonya tanpa suara, jadi liriknya tampil sebagai subtitle karaoke di bawah layar (font tulisan tangan Patrick Hand, kata yang sedang "dinyanyikan" berubah kuning, sisanya krem, dengan garis tepi gelap), mengikuti ketukan sintetis 96 BPM.
Liriknya tujuh baris, bahasa Indonesia:
1. Dulu kukira tempe itu biasa saja,
2. cuma kedelai dalam daun pisang.
3. Ternyata ada kapang kecil yang bekerja,
4. merajut benang putih semalam suntuk.
5. Tiga puluh derajat, tiga puluh enam jam,
6. spora jadi hifa, hifa jadi miselium.
7. Sekarang aku tahu: tempe itu hidup!
Gayanya seperti buku cerita bergambar: bentuk datar dengan garis tinta cokelat tua yang sedikit bergetar seperti animasi tangan (line boil sekitar 8 kali per detik, halus saja), tekstur kertas berbintik dan bernoda tipis di seluruh layar, vinyet lembut, palet hangat yang agak pudar (dinding hijau sage, kayu cokelat, papan tulis hijau tua, kuning keemasan untuk aksen). Kamera selalu bergerak pelan (push in atau pull back), dan antar-adegan berganti lewat sobekan kertas yang menyapu dari kanan ke kiri. Jangan biarkan mulut tokoh bergerak seolah menyanyi; tokoh cukup punya ekspresi yang pas dengan adegannya, dan lengan mereka harus berpose wajar.
Empat adegan, masing-masing sekitar lima detik:
1) Dapur Mbah di malam hari. Anak SD berseragam putih dengan dasi merah duduk di meja kayu, menopang dagu, menguap, lalu terkantuk-kantuk dengan huruf zzz melayang. Di seberangnya Mbah berkebaya marun, rambut abu-abu bersanggul dan berkacamata bulat, membungkus kedelai dengan daun pisang, lalu mengangkat sebalok tempe yang berkilau sambil berkata dalam balon kata "Ini hidup, lho!". Si anak terbangun kaget dengan tanda tanya kuning. Detail latar: dinding gedhek anyaman bambu, jendela dengan bulan sabit, bintang, dan siluet daun pisang, lampu gantung yang berayun dan menyinari meja, jam dinding yang jarumnya berputar cepat, rak stoples kedelai dan kendi, deretan bungkusan tempe di rak bambu, tampah berisi kedelai, taplak meja batik bermotif kawung dengan tepi bergerigi, dan papan tulis kecil berisi daftar belanja (kedelai 2 kg, ragi tempe, daun pisang) yang dicentang satu per satu.
2) Papan tulis IPA tentang fermentasi, tampak dekat. Kapur menggambar sehelai daun pisang, lalu 24 butir kedelai berwajah yang sedang tidur. Di kanan papan tergambar sporangium kapang (tangkai dengan kepala bulat penuh titik spora, berlabel "sporangium"), lalu spora kecil berwajah dilepaskan darinya, melayang membentuk busur dengan jejak putus-putus, dan mendarat di beberapa kedelai (label kapur kuning "spora Rhizopus"); kedelai yang kejatuhan spora terbangun, lalu benang-benang hifa kapur tumbuh menyambung dari butir ke butir sampai semuanya terajut dalam lapisan putih. Muncul bulan sabit dengan tulisan "semalam", kotak kapur di sekeliling kumpulan kedelai, tulisan besar "= TEMPE", dan catatan "36 jam kemudian". Si anak kini duduk di pojok kanan bawah, menatap papan sambil mencatat dengan pensil.
3) Layar terbelah oleh sobekan kertas. Kiri: kertas merah muda pucat berlabel tulisan tangan "di dapur", berisi termometer yang naik dari 22 ke 30°C, jam 12 jam yang jarumnya berputar tiga kali dengan ikon matahari dan bulan bergantian, penghitung "0 jam" sampai "36 jam", dan bungkusan daun pisang yang bernapas pelan dengan uap hangat serta bintik putih kapang di tepinya, ditambah catatan "hangat dan lembap". Kanan: cetak biru biru tua bergrid dengan label mesin tik "R. OLIGOSPORUS · 400×" dan alur diagram berupa lingkaran krem "spora", "hifa", "miselium", lalu kotak "tempe", dihubungkan garis panah dengan titik cahaya kuning yang berjalan, serta tambahan "+30°C" dan "+36 jam". Di bawahnya jaringan hifa putih tumbuh bercabang dari satu spora, dengan ujung yang menyala kuning, dan sebuah mikroskop retro dengan maskot spora kecil yang melompat mengikuti ketukan.
4) Dapur yang sama di pagi hari: langit jendela jingga dengan matahari terbit, cahaya pagi menyorot meja, lampu padam. Mbah mengiris tempe di talenan mengikuti ketukan, sepiring tempe goreng mengepul di tengah meja, dan si anak mengangkat sepotong tempe goreng dengan mata berbinar lalu menggigitnya (tulisan "kriuk!"). Kamera lalu bergerak ke papan tulis kecil, tempat tulisan kapur "Terima kasih, Rhizopus!" tertulis sendiri bersama gambar spora tersenyum dan hati kecil, ditaburi debu kapur, sebagai penutup.



