Motion design

Pinisi dari Satu Garis Pensil

Satu garis pensil di kertas krem bergaris biru berubah menjadi lunas, papan lambung yang dibengkokkan di atas mal, gading, rumah buritan, kemudi samping, tiang, dan layar kapal pinisi berburitan tinggi, lalu dibanjiri biru menjadi cetak biru, berputar menjadi penampang melintang yang simetris, dan berlayar sebagai hologram cyan di atas ombak garis pindai sebelum kembali menjadi judul.

Motion design · Canvas 2D · 20 detik · 1280×720

Prompt

<arahan> Buat motion design berdurasi 20 detik yang berulang mulus (loop) di canvas 2D, ukuran 1280x720, tentang lahirnya sebuah kapal pinisi dari satu garis pensil. Konsep satu kalimat: satu garis pensil naik pangkat tiga kali (grafit di kertas, kawat putih di cetak biru, cahaya di layar hitam) dan tidak pernah meninggalkan layar. Setiap adegan dibuat dari adegan sebelumnya: garis, bentuk, dan huruf berubah menjadi adegan berikutnya. Tanpa cut, tanpa crossfade. Urutan pembangunannya mengikuti cara pinisi dibuat: lunas dulu, lalu papan lambung dipasang dari lunas ke atas, baru gading dimasukkan. Tipografi: hanya Geist. Weight 900 untuk kata besar, 600 sampai 800 untuk label kecil (11 sampai 14 px, tracking 0.2 em). Angka di panel instrumen memakai lebar tetap per digit supaya tata letaknya tidak bergeser saat menghitung. Palet: krem kertas #EDE6D5, biru cetak biru #1B3ED2, cyan hologram #45F0DD, hitam #07080A, grafit #16161A, dan putih. Aksen tiap tahap adalah warna tahap berikutnya. Kamera: terkunci, menghadap lurus seperti meja gambar. Objeknya yang berputar, kameranya tidak pernah bergerak. Teks tidak pernah tertimpa garis atau gambar: setiap label punya ruang kosong sendiri. Tiga tinta untuk geometri yang sama: - KERTAS: krem dengan serat halus, grid biru 60 px sekitar 13% dan tiap garis kelima 26%. Garis pensil di-resample dan digeser oleh gelombang sinus pelan yang fasenya berganti 8 kali per detik, digores dua kali (lebar penuh 90%, setengah lebar 40%), tekstur kertas menembus goresan, lalu di-multiply ke kertas. Isian berupa arsiran diagonal yang digambar satu garis demi satu garis. Huruf besar diisi arsiran biru dengan garis tepi ganda yang ditelusuri dari bentuk hurufnya (bukan stroke kontur), jadi sudut dalam huruf tetap bersih. - CETAK BIRU: biru rata dengan grid putih. Garis putih bersih, garis tersembunyi putus-putus lebih tipis, isian arsiran halus. - HOLOGRAM: hitam dengan grid cyan. Garis cyan berinti putih 30%. Isian berupa garis pindai horizontal berjarak 8 px yang tebalnya 1 sampai 4 px mengikuti suku Lambert tiap bidang terhadap satu arah cahaya tetap: tiap panel layar sedikit melengkung sehingga terangnya bergradasi, dan lambung dibagi per papan dan per stasiun sehingga sisi yang terkena cahaya terisi garis tebal dan bagian bawah tipis. Di cetak biru dan hologram, garis papan berhenti di stasiun 0 dan 10 supaya ujung lambung tidak menjadi simpul garis, dan garis pindai geladak berhenti beberapa piksel sebelum rumah buritan. Tanpa glow, tanpa blur. Dilarang: ledakan partikel, glow, lens flare, guncangan kamera, RGB split, crossfade, gradien generik, easing memantul. </arahan> <struktur> 120 BPM, 40 ketukan, 10 bar masing-masing 2 detik. Selalu ada kejadian di tiap ketukan. Easing: pegas teredam kritis 1 - (1 + w t) e^(-w t) dengan w 10 sampai 20, tidak pernah melewati target; exponential ease-in dan ease-out untuk sapuan dan keluar. Pergantian tahap: kertas ke cetak biru lewat layar agung yang membesar melewati frame dengan tepi tegas; cetak biru ke hologram dan hologram ke kertas lewat satu garis pindai horizontal. Frame terakhir sama dengan frame pertama. Dua label sudut selalu tampil: kiri atas "GBR. 07 - PENAMPANG" (nomor bar dan nama, berganti dengan gulungan vertikal), kanan bawah "KETUKAN 27 / 40". Nama bar: JUDUL, LAMBUNG, GADING, TIANG, LAYAR, CETAK BIRU, PENAMPANG, CAHAYA, OMBAK, PULANG. </struktur> <storyboard> Bar 1 (0-2 s, kertas): kata PINISI Geist 900 selebar sekitar 900 px, diarsir pensil biru dengan garis tepi ganda grafit. Label kecil SATU GARIS PENSIL di atasnya dan MENJADI KAPAL KAYU di bawahnya, rel pensil 940 px di atas huruf, dan sebatang pensil tergeletak di ujung kanan rel. Label kecil terhapus huruf demi huruf, pensil meluncur keluar ke kanan, rel jatuh dan menekan huruf hingga gepeng menjadi satu garis. Garis naik dan memendek menjadi 720 px; kata LUNAS (Geist 900, diarsir) naik menembus garis huruf demi huruf; sebelas tanda stasiun biru bernomor 0 sampai 10 tumbuh satu per satu di sepanjang lunas; garis ukur PANJANG 28,0 M tergambar dengan angka berjalan; lalu LUNAS tenggelam kembali ke dalam garis. Bar 2 (2-4 s): garis membelah menjadi garis geladak dan lunas sehingga lambung terbentuk: lambung khas pinisi yang dalam, lunas lurus, linggi haluan melengkung condong ke depan, dan buritan terangkat jelas lebih tinggi dari haluan. Nomor stasiun turun ke bawah lambung dan tetap tinggal. Tiga mal (cetakan kayu berlabel MAL) berdiri di stasiun 2, 5, dan 8. Delapan papan biru dipasang dari lunas ke atas: tiap papan muncul sebagai bilah lurus lalu dibengkokkan ujung-ujungnya ke linggi depan dan belakang hingga menempel pada lambung. Label PAPAN LAMBUNG menunjuk salah satu papan, mal dicabut, dan arsiran diagonal mulai mengisi lambung. Bar 3 (4-6 s): sebelas gading-gading tumbuh satu per satu tepat di tanda stasiun 0 sampai 10; arsiran silang menyapu; rumah buritan naik dari geladak buritan yang miring (sisi bawahnya mengikuti garis geladak, dindingnya sedikit masuk dari sisi lambung), lalu kemudi samping tergambar: tongkat kemudi diikat pada ujung balok di sisi buritan tepat di bawah tepi geladak, dan daun kemudinya menggantung ke belakang di bawah buritan. Bagian yang di depan selalu memutus garis di belakangnya. Bar 4 (6-8 s): dua tiang tumbuh, cucur haluan memanjang, tali temali tergambar (tali belakang berujung di atap rumah buritan), lalu tiga layar membuka dari garis menjadi segitiga dan kemudian layar gaff khas pinisi, diisi arsiran dan arsiran silang. Tiap layar gaff punya batang gaff di sisi atas dan boom di kaki layar, keduanya berengsel pada tiangnya, dan tepi depan layar menempel sepanjang tiang; layar haluan terikat di ujung cucur dan puncak tiang depan. Kaki layar agung berada di depan dan di atas rumah buritan, tidak memotongnya. Bar 5 (8-10 s): arsiran rapat menyapu sampai semua layar biru pekat, label LAYAR AGUNG, LAYAR TENGAH, dan LAYAR HALUAN muncul, panji kecil berkibar. Lalu layar agung membesar melewati frame dengan tepi tegas; di dalamnya sudah cetak biru. Bar 6 (10-12 s, cetak biru): kapal dalam garis putih, gading tersembunyi putus-putus, garis air putus-putus, garis ukur PANJANG 28,0 M, dan label penunjuk BURITAN, TIANG AGUNG, LUNAS, GADING-GADING bermunculan per ketukan; LUNAS dan GADING-GADING duduk di antara lunas dan garis ukur sehingga tidak ada garis penunjuk yang memotong garis ukur. Bar 7 (12-14 s): label keluar, tiang dan layar turun, rumah buritan, kemudi, dan papan ditarik masuk, garis geladak lebih dulu mendatar selagi kapal masih tampak samping, baru kemudian kapal berputar 90 derajat dan membesar menjadi rencana penampang (body plan) ortografis yang simetris: separuh kiri berisi gading-gading buritan, separuh kanan gading-gading haluan, hanya kurva U bersarang dengan garis geladak mendatar. Garis tengah putus-putus, tiga garis air putus-putus berlabel GARIS AIR, label BURITAN dan HALUAN di atas masing-masing separuh, dan garis ukur LEBAR 7,2 M. Garis tengah berhenti di atas garis ukur sehingga label LEBAR punya ruang sendiri. Semua label dan garis bantu dihapus lebih dulu; kapal yang geladaknya masih datar berputar ke sudut tiga perempat, baru setelah putaran selesai garis geladak kembali melengkung dan papan, rumah buritan, kemudi, tiang, serta layar tumbuh lagi. Bar 8 (14-16 s): satu garis pindai turun dari atas mengubah semuanya menjadi hologram; layar dan lambung terisi garis pindai dari atas ke bawah dengan ketebalan yang mengikuti cahaya, ombak garis pindai masuk dari kiri, dan panel instrumen di pojok kanan atas, di atas cucur haluan, menampilkan LAJU yang berhitung sampai 8,5 KNOT. Bar 9 (16-18 s): kapal berlayar, terayun pelan; ombak berupa garis putus-putus yang berjalan, dan setiap garis ombak meruncing di kedua ujungnya (putusan makin pendek dan garis makin tipis di 100 px terakhir, tanpa potongan setengah). Di bawah LAJU muncul ARAH yang berhitung dari 000° lalu diam tepat di 045° TIMUR LAUT. Ombak lewat di belakang lambung, rumah buritan, dan kemudi dengan celah kecil, tidak pernah menembusnya. Pita terang menyapu layar dengan menebalkan garis pindai, lalu kapal berputar kembali ke tampak samping. Bar 10 (18-20 s): kapal dan ombak memipih menjadi satu garis, garis pindai naik mengembalikan kertas, rel terangkat sehingga huruf PINISI mengembang kembali, pensil meluncur masuk, dan label kecil terketik ulang, persis seperti frame pertama. </storyboard>

Video Motion design lainnya

  1. Menyelam ke Dasar SamudraMotion design20 dtkMenyelam ke Dasar SamudraKamera turun tanpa potongan dari bawah permukaan laut yang terang sampai dasar samudra 4.000 meter. Di sepanjang jalan tampak kawanan ikan, pari manta yang melintas di atas kepala, ubur-ubur dan sifonofor yang menyala sendiri, salju laut, lalu cerobong hidrotermal yang mengepulkan asap hitam di atas cahaya jingga.Three.js · Shader · WebGL
  2. Tiga Kemampuan Udang MantisMotion design20 dtkTiga Kemampuan Udang MantisVideo motion graphic tiga bab tentang udang mantis: grafik spektrum yang memperlihatkan dua belas jenis fotoreseptornya, diagram pegas dan kait yang mengunci lalu melepas tenaga pemukul, serta adegan layar penuh saat pemukulnya menghantam dan meretakkan cangkang siput.SVG · GSAP · CSS
  3. Rendang Butuh SabarMotion design20 dtkRendang Butuh SabarSebuah resep nenek berubah jadi cerita empat jam memasak rendang: daftar bahan dicentang satu per satu, lembar resep tergulung ke atas, lalu wajan miring berisi santan kuning dan potongan daging perlahan menggelap jadi kalio dan akhirnya rendang kering, sementara meteran kematangan di bawah naik dari 0 sampai 100 persen dan ditutup headline "Kesabaran Terbayar."CSS · Canvas 2D · GSAPJuri 91
  4. Puncak Tertinggi NusantaraMotion design20 dtkPuncak Tertinggi NusantaraPertanyaan "Gunung tertinggi di Indonesia?" dijawab lewat layar pemindai gelap beraksen oranye: tujuh kartu puncak dengan siluet khas masing-masing dipindai dari barat ke timur sambil penanda bergerak di peta titik-titik Nusantara, lalu berubah jadi grafik profil ketinggian berskala sama yang diurutkan. Di akhir, PUNCAK JAYA muncul besar dengan bayangan oranye dan angka 4.884 mdpl.Canvas 2D · CSS
ArtikelSusun brief